Remote Control
sains infra merah dan kenapa kamera HP bisa melihat cahayanya tapi matamu tidak
Pernahkah kita memukul-mukul remote control TV ke telapak tangan saat salurannya tidak mau pindah? Secara psikologis, ini adalah respons yang sangat manusiawi. Kita merasa sedang mengambil kendali fisik atas sebuah alat yang tiba-tiba mogok kerja. Padahal, sering kali baterainya yang mulai melemah, atau posisi kita yang kurang pas.
Namun, ada satu hal yang lebih menarik dari sekadar kebiasaan memukul remote. Coba teman-teman perhatikan bagian ujung depan alat tersebut. Di sana biasanya ada satu lampu bohlam kecil yang menonjol. Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa saat tombol ditekan, lampu itu seolah tidak pernah menyala? Apakah lampunya rusak? Atau jangan-jangan, mata kitalah yang sebenarnya buta terhadap cahaya tersebut? Mari kita bongkar rahasia kecil di ruang keluarga kita ini.
Sejarah mencatat, manusia selalu punya obsesi untuk mengendalikan sesuatu dari jauh. Dulu, remote control pertama di dunia masih menggunakan kabel panjang yang menjuntai di lantai ruang tamu. Tentu saja itu sangat tidak praktis dan sering membuat orang tersandung. Para ilmuwan kemudian memutar otak. Mereka butuh sebuah kurir kasat mata. Kurir yang bisa melesat dari sofa ke televisi dalam hitungan milidetik, tanpa kabel, tanpa suara.
Solusinya ternyata ada pada cahaya. Namun, bukan sembarang cahaya. Jika remote menggunakan cahaya biasa seperti senter, bayangkan betapa mengganggunya acara menonton TV kita. Setiap kali membesarkan volume, akan ada kilatan cahaya yang menyilaukan mata. Oleh karena itu, para insinyur memilih jenis cahaya rahasia yang melintas diam-diam di udara. Sebuah gelombang yang bekerja keras mengirimkan kode biner rumit ke televisi, tepat di depan wajah kita, tanpa pernah kita sadari.
Untuk memahami mengapa cahaya ini tidak terlihat, kita perlu sedikit berkenalan dengan kelemahan biologis tubuh kita sendiri. Mata manusia adalah mahakarya evolusi, namun ia memiliki batasan yang sangat ketat. Kita hanya diizinkan melihat sebagian kecil dari spektrum elektromagnetik. Kita mengenalnya dengan warna pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu.
Warna merah adalah batas mentok penglihatan kita. Gelombang cahaya merah memiliki ukuran yang paling panjang dan energi yang paling rendah di antara warna lain yang bisa kita lihat. Lalu, apa yang terjadi jika ada cahaya yang gelombangnya lebih panjang dan energinya lebih rendah dari warna merah?
Di sinilah kita memasuki wilayah infrared atau infra merah. Secara harfiah, kata ini berarti "di bawah merah". Mata kita sama sekali tidak memiliki reseptor kimiawi untuk menangkap gelombang ini. Jadi, saat kita menekan tombol remote, lampu kecil di ujungnya sebenarnya sedang berkedip dengan sangat hebat dan berteriak kegirangan memancarkan infra merah. Sayangnya, otak kita menganggap itu sebagai kekosongan belaka. Lalu, mungkinkah kita bisa meretas batasan biologis ini dan melihat cahaya yang tersembunyi tersebut?
Jawabannya adalah: bisa. Teman-teman bahkan memiliki alat peretasnya sekarang di dalam genggaman. Ambil smartphone kita, buka aplikasi kamera, lalu arahkan ujung remote ke lensa kamera HP. Sekarang, tekan tombol apa saja di remote tersebut sambil melihat ke layar HP.
Tiba-tiba, keajaiban sains terjadi. Kita akan melihat lampu remote itu berkedip terang, biasanya memancarkan warna ungu kebiruan atau putih keunguan di layar HP. Mengapa kamera HP bisa melihat apa yang mata kita tidak bisa?
Ini murni hard science. Berbeda dengan retina mata manusia yang terbuat dari jaringan biologis, sensor kamera HP kita terbuat dari silikon. Benda bernama silikon ini tidak peduli dengan batasan evolusi manusia. Ia sangat sensitif dan rakus menyerap berbagai gelombang cahaya, termasuk infra merah. Sebenarnya, pabrikan HP memasang filter penahan infra merah di kamera utama agar foto pemandangan kita warnanya tidak aneh. Namun, kamera depan (kamera selfie) atau kamera tanpa filter optik yang tebal, biasanya akan dengan senang hati menangkap cahaya rahasia dari remote kita dan menerjemahkannya menjadi warna yang bisa dimengerti oleh mata manusia di layar.
Eksperimen sederhana di ruang tamu ini sebenarnya memberikan kita sebuah pelajaran penting tentang cara berpikir kritis. Ia mengingatkan kita bahwa realitas itu jauh lebih luas dari apa yang sanggup dicerna oleh panca indera kita. Hanya karena kita tidak bisa melihat, mendengar, atau menyentuh sesuatu, bukan berarti hal tersebut tidak ada.
Keterbatasan biologis memang membuat kita tidak bisa melihat indahnya tarian cahaya infra merah. Namun, kecerdasan kitalah yang menciptakan teknologi. Sains dan teknologi pada akhirnya bertindak sebagai perpanjangan dari indera kita. Mereka membantu kita mengintip ke dalam semesta yang sebelumnya tersembunyi. Jadi, lain kali jika remote TV teman-teman mogok kerja, jangan buru-buru dipukul. Ambil HP, buka kamera, dan periksalah secara ilmiah apakah kurir cahaya tak kasat mata itu masih berkedip mengirimkan pesannya.